Doa Itu Sesuatu Ya ...
oleh Yuliati Puji Lestari*
“Semoga bu yeni cepat nikah ya… Allah…”
“semoga bu yuli dibanyakkan rezeki ya…. Allah…”
“semoga mama dan papa sehat ya….Allah….”
“semoga Alvin jadi anak baik ya….. Allah….”
Lirih terdengar doa itu setiap hari, doa yang sama selalu diucapkan dengan ketulusan. Ya, sosok satu dari banyak anak yang sangat special di hati ini, Do’a yang diucapkan tanpa beban, mengalir apa adanya. Kepolosan kanak-kanaknya yang sering melelehkan berjuta beban yang menyesak.
Alvin… nama yang hampir semua guru dan anak di sekolah ini pasti mengenalnya. Mengenal keunikkannya, kepolosan dan ketulusan ala Alvin yang selalu menjadi cerita mengakhiri hari yang luar biasa. Sungguh saya banyak belajar dari sosok-sosok kecil ini untuk bisa menjadi guru yang mencintai dengan tulus, merengkuh mereka dalam kehangatan dan membimbing mereka dalam banyak hal.
Hari yang sama dengan hari sebelumnya, kecuali satu yang berbeda saya merasakan kerinduan bertemu dengan sosok-sosok kecil yang selalu menghiasi ingatan di hari ketika saya tidak membersamai mereka di kelas. Kebetulan hari itu ada teman baru yang menggantikan ustazah Yeni di kelas yaitu ustad Hadi. Sesi perkenalan dilalui, Alhamdulillah berjalan lancar. Sampailah sesi shalat berjama’ah anak-anak yang saya selalu menunggu terdengarnya doa lirih yang senantiasa sama diucapkan oleh mulut mungilnya.
Ya… Doa Alvin. Tiba-tiba terlintas ide di benak saya, bahwa saya akan meminta Alvin untuk menambahkan jumlah orang dalam doanya. Ya! Mendoakan ustad Hadi yang juga kebetulan belum menikah. “Semoga ustad Hadi cepat menikah juga Ya.. Allah”
Subhanallah…. Hingga hari ini do’a itu selalu sama diucapkan. Doa Alvin yang selalu mengingatkan saya bahwa mendo’akan saudara adalah salah satu bukti bahwa kita mencintainya karena Allah.
“Tidaklah beriman (tidak sempurna) iman salah seorang dari kalian sampai dia mencintai bagi saudaranya apa dia cintai bagi dirinya”. (HR Bukhari Muslim).
*Guru SD Islam dan Leadership Bintang Cedekia
