MENU

Sekolah Guru, Belajar Strategi Menjadi Super Teacher Anti Tantrum

Sekolah Guru, Belajar Strategi Menjadi Super Teacher Anti Tantrum

bintangcendekia.sch.id | PEKANBARU - Bintang Cendekia kembali mengadakan kegiatan rutin bulanan Sekolah Guru yang dihadiri oleh seluruh guru atau muaddib. Sesi Sekolah Guru pada Oktober ini dilaksanakan pada Sabtu, 11 Oktober 2025, dengan mengangkat topik menarik super teacher bersama narasumber Ibu Putifatma Hanum Melati, MHSPy., seorang psikolog. 

Ibu Puti mengawali diskusi dengan menyoroti tingginya tuntutan terhadap guru yang harus selalu energik, sabar, dan sempurna. Ia menekankan bahwa kunci menjadi super teacher terletak pada pengenalan diri dan manajemen bank emosi pribadi.

"Kita ini pendidik, pemberi. Agar bisa terus memberi, kita harus diisi terus. Maka guru perlu rajin menambah saldo emosi positif, tidak hanya bahagia, tetapi juga perasaan lega, tenang, dan menghindari penumpukan emosi negatif yang tidak diselesaika.” ujar ibu Puti.

Menurut Ibu Puti, penumpukan emosi negatif dalam diri itu ibarat bisul, akan membuat guru mudah meledak atau tantrum bahkan hanya karena sentuhan kecil. Maka dikatakan bahwa guru yang ideal adalah guru yang terus menerus memperbaiki dirinya sambil memperbaiki orang lain, yaitu solih wal muslih

Secara praktis ibu Puti menggambarkan bagaimana strategi dalam mengatasi dua sumber konflik utama yaitu tantrum murid dan komplain orang tua. 

Dijelaskan bahwa dalam menghadapi tantrum murid, prinsip utamanya adalah Stay Calm, tetap tenang. Guru mesti mengamankan anak dari pusat perhatian terlebih dahulu, kemudian membiarkan emosi anak tuntas, jangan langsung menyuruh diam.

“Kita identifikasi apakah anak hanya mencari perhatian, butuh bantuan, atau justeru ada unsur manipulatif. Kemudian kita validasi perasaan anak, bukan fokus menanyakan amarahnya.” jelas Ibu Puti.

Lebih lanjut dikatakan, setelah itu guru memberi solusi dan edukasi  bagaimana cara anak mengekspresikan perasaannya secara benar. Disebutkan juga untuk pencegahan tantrum dapat melalui memberikan pujian, menunjukkan kepada anak rasa dicintai atau love language yang tepat, dan membangun kebiasaan baik.

Selain menghadapai tantrum murid, guru juga sering kali menerima dan menangani komplain orang tua. Menurut ibu Puti, dalam menghadapi komplain, guru dituntut untuk menjaga profesionalitas dan 'izzah atau harga diri sebagai pihak yang memberikan ilmu. 

Dikatakan bahwa guru mesti memiliki strategi dalam menghadapi hal ini. Guru mendengarkan dengan empati, bukan pembelaan atau balasan saat orang tua berbicara. 

“Tunjukkan kepedulian tanpa merendahkan diri. Bangunlah dialog, bukan debat, dengan bahasa yang lembut dan hangat, serta fokus pada masalah utama dan solusi, bukan pada emosi orang tua atau menyalahkan pihak lain.” kata ibu Puti.

Ibu Puti menegaskan bahwa guru adalah teladan adab, sehingga penegakan aturan sekolah yang jelas dan menjaga sikap profesional menjadi benteng utama.

Kegiatan Sekolah Guru ini merupakan komitmen Yayasan Bintang Cendekia dalam peningkatan kualitas dan self-care para pendidiknya yang akan terus dilaksanakan secara rutin setiap bulan. Kegiatan ini juga bertujuan membekali para guru untuk menghadapi tuntutan profesi yang kian kompleks, mulai dari menjadi pendidik, problem solver, hingga konselor.***

Penulis: Abdul Hamid

KOMENTAR