Masjid Quba
Bila ingin berhasil dalam berdakwah saat ini, pelajari bagaimana dakwah Rasulullah saw zaman dahulu. Salah satu peristiwa sejarah yang berkaitan dengan upaya peningkatan kualitas dakwah adalah momen hijrah. Dakwah rasulullah saw setelah hijrah mempunyai makna membangun dan mengembangkan kualitas kehidupan kaum Muslimin secara luas dan menyeluruh.
Saat itu Rasulullah saw beserta para sahabat berhijrah dari Mekah ke Madinah. Di Madinah, beliau membentuk pemerintahan Islam dan mengembangkan dakwah secara terencana ke seluruh penjuru dunia. Harus disadari bersama bahwa ada hubungan timbal balik yang sangat kuat antara kegiatan dakwah dan kehidupan sosial kemasyarakatan.
Jika dakwah dilakukan dengan perencanaan yang matang, maka peningkatan kualitas kehidupan akan nyata dirasakan. Perencanaan itu berupa program dan langkah-langkah yang terukur dengan para pelaku (dai) yang memiliki akhlakul karimah. Sebaliknya, jika dakwah dilakukan tanpa perencanaan, tanpa program yang jelas dan terukur, kurang menyentuh kehidupan nyata, sama sekali tidak memiliki komitmen yang kuat untuk terlibat dalam kegiatan dakwah dalam berbagai macam aspek kehidupan, maka akan terjadi dominasi kemungkaran dan kebatilan pada kehidupan umat ini.
Pada saat hijrah, masjid adalah institusi pertama yang dibangun Rasulullah saw sebagai pondasi pengembangan peradaban dan pemerintahan Islam. Setibanya Rasulullah saw di daerah Quba’ di Madinah, beliau langsung menginstruksikan pembangunan masjid Quba’, masjid pertama dalam sejarah Islam. Rasulullah memutuskan untuk membangun masjid sebagai pusat aktivitas ibadah, politik, budaya, dan sosial umat Muslim. Di masjid itulah, Rasulullah saw. sebagai pemimpin umat Islam menetapkan keputusan-keputusan politik penting. Kemudian Rasulullah saw. berangkat menuju Madinah, akan tetapi hingga akhir hayatnya, Rasulullah saw tidak pernah memutus hubungan dengan masjid Quba.
Masjid Quba’ mendapatkan pujian dari Allah karena pembangunannya sejak hari pertama didasarkan atas dasar takwa.
Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. {Qs. At Taubah (9) : 108}
Pembangunan masjid Quba’ sebagai institusi pertama, yang kemudian dilanjutkan dengan pembangunan masjid Nabawi, tentunya mempunyai nilai strategis dan menentukan dalam rangka pembangunan peradaban dan pemerintahan Islam. Di masjid itulah Nabi SAW. dan para sahabatnya melaksanakan kegiatan sholat berjamaah, melaksanakan silaturahmi-komunikasi-interaksi, melakukan kegiatan proses belajar mengajar, mengurus baitul maal, menerima tamu, menyelesaikan perselisihan, menyusun taktik dan strategi peperangan, membuat perkemahan (di halaman masjid) untuk mengurus prajurit yang terluka dalam peperangan dan melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.
Pasca pembentukan pemerintahan Islam, masjid menjadi elemen utama dalam agama dan ajaran Islam dan dari tempat suci inilah agama Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia serta menjadi tempat penggemblengan para mubaligh, ulama dan guru-guru besar.
Peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Islam, semuanya berakar dari masjid, baik itu bermula dan berkembang dari masjid atau mencapai puncaknya di masjid, bahkan tak jarang semua proses dan hasilnya terjadi di masjid. Fakta sejarah ini menyadarkan kita bahwa seharusnya fungsi masjid itu multidimensional.
Prof. DR. KH. Didin Hafidhuddin
